Resensi
Buku adalah gudang ilmu, demikian kata pepatah yang sering kita dengar di masa kecil tahun 70 atau 80 an. Tetapi kini kita menyaksikan bahwa perkembangan ilmu pengetahuan dan teknlogi telah merubah pola hidup dan pola belajar. Layar monitor dan ponsel semakin menggantikan halaman-halaman buku dan barang cetakan lainya. Akankah kebiasaan baru ini menggeser perilaku kita dalam membaca barang cetakan dengan media kertas, sehingga pepatah di atasmasih relevan saat ini dan ke depan.
Tidak mudah memang untuk menjawab dengan pasti pertanyaan mendasar di atas, karena sampai saat ini kita masih melihat tingginya kebutuhan kertas untuk transfer ilmu dan informasi. Tetapi banyak pihak juga yang meyakini bahwa abad kertas telah berakhir dan menyambut lahirnya abad digital dengan ucapan say good bye to paper, atau paperless world. Salah satu pengalaman hidup manusia adalah melalui sentuhan selain lihat dan cecap. Kertas diyakini tidak akan punah dalam waktu dekat karena hal ini, yakni manusia belajar menulis dan membaca dengan menyentuh. Ya menyentuh buku dan barang cetakan dengan media kertas.
Terlepas dari perdebatan di atas, kita melihat perlunya forum untuk berbagi di antara umat manusia tentang apa yang dialami, termasuk apa yang dibaca dan ingin dibaca. Referensi buku, film atau musik menjadi jembatan untuk mengisi rongga keinguintahuan antar individu dan kelompok ini. Melalu referensi diharpkan kita akan mempertukarkan pengalaman kita tadi, pengalaman membaca tentunya untuk buku dan bacaan lainya. Di sinilah ruang ini dibuka untuk kita semua untuk mempertukarkan penaglaman kita dalam kehidupan.
Filsafat Prancis
Buku Filsafat Prancis merupakan satu seri buku filsafat yang ditulis K Bertens melengkapi buku filsafat barat lainya seperti filsafat Inggris dan Jerman. Beberapa nama filsuf menjadi bahasan termasuk riwayat hidup singkat sang filsuf yang memudahkan untuk memahami pemikiran-pemikiran yang mendasari teori dan pandanganya.
Last Updated (Sunday, 03 January 2010 01:41) |
Han Kelsen
Sebuah buku klasik tentang hukum dan negara, pembahasan dimulai dari pertanyaan filosofis, apa yang dimaksud dengan ilmu hukum. Bagi penulis ilmu hukum berbeda dengan filsafat keadilan, karena filsafat keadilan akan memiliki bias saat dihadapkan dengan uilmu hukum murni. Demikian juga dengan negara Hans, membahasnya secara dingin, namun tetap mengakomodir pemikiran filosofis sebagai dasar dan perekan berbagai disiplin ilmu.
Resensi dari bebeberapa buku pilihan akan mewarnai Bengkelpena sebagai sharing bacaan teks serta implementasinya dalam wacana publik. Pilihan subjektif atas buku-buku yang diresensi tidak dimaksudkan sebagai pembatas bidang kajian, tetapi relevansi dan signivikansi pemilihanya memerlukan masukan dari smua pihak, terutama sidang peselancar yang kami hormato
Last Updated (Sunday, 03 January 2010 01:42) |


Resensi




















