Skandal Kades Jatiborok (Sekadar Cerita)
Rumor itu telah bergulir cukup lama di desa Jatiborok, sebuah desa yang terletak di tepi pantai laut Jawa. Padahal kades Renggo Wudel ini belum lama terpilih kembali menjadi kepala desa dalam pemilihan kepala desa. Banyak harapan yang digantungkan pada sosoknya yang sangat santun dan murah senyum, tetapi dalam pilkades lalu banyak warga terutama yang tidak mendukung kades menyatakan bahwa proses pemilihanya bermasalah, karena kades dituding menggadaikan tanah bengkok sebelum waktunya dan uangnya digunakan untuk kampanye dalam pilkades.
“Ya biar aja toh, kalau tanah bengkok itu memang kewenangan beliau pak kades,”ujar Mbok Tiwi menanggapi keluhan putra bungsunya Karsoto yang tidak bisa menjadi sekdes sebagaimana yang dijanjikan oleh Kasrun Gendut salah satu calon kades yang bersaing dengan Renggo Wudel. Karena memang Kasrun Gendut kalah suara dari kades terpilih, bahkan jika suara Kasrun Gendut digabung dengan perolehan suara Somad Bangor calon kades lainya sekalipun tak dapat menandingi perolehan suara Renggo Wudel yang mendapat hampir tiga perempat dari suluruh suara yang masuk dalam pemilihan kades itu.
“Kan simbok sudah bilang sejak awal kamu jangan ikut-ikutan politik, itu juga pesan Embah Kakungmu, karena dulu juga bapakmu kabur setalah kakakmu Karsito lahir, karena politik,”Mbok Tiwi terus nyerocos, walau dalam hatinya pernah memimpikan agar Karsoto bisa jadi pegawe desa agar bisa mengangkat kembali nama baik keluarganya yang dituding ikut-ikutan partai terlarang saat itu, sehingga dua kali melarikan diri dan kini bahkan sudah tak ada kabar beritanya.”Wis saiki urip sing lempeng,”Ujar Mbok Siti seolah ingin mengultimatum Karsoto, menutup lembar keinginan politik anak bungsunya .
“Simbok bisa ngomong gitu karena ga tahu politik,”suara Karsoto seakan berguman tak ingin mendapat jawaban dari ibunya yang sangat dia hormati, selama ini ibunya yang sederhana selalu menjadi teman diskusi, dan diam-diam Karsoto kadang mengagumi argumen ibunya yang sehari-hari dikenal sebagai pedagang kembang yang berdagang tiga hari seminggu, yakni hari Kamis, Jumat dan Sabtu. Ramainya dagangan Mbok Siti justeru pada hari Kamis dan Jumat, karena banyak masyarakat yang akan nyekar ke pusara orang tua atau keluarganya, dan Mbok Siti selalu berjualan di trotoar jalan di ujung pasar yang dekat dengan dua komplek pemakaman masyarakat di desa Jatiborok itu.
Mbok Siti sangat jernih jika sudah berbicara tentang kehidupan sosial, menurutnya masyarakat akan makmur jika pemerintah desa dipimpin oleh pemimpin yang baik. Dia berargumen bahwa tiga puluh tahun lalu sebenarnya tanah bengkok yang merupakan kekayaan desa itu mencapai lebih dari seratus hektar, sehingga untuk kepentingan pemerintahan dan menopang kesejahteraan masyarakat sangat mencukupi. Pada setiap musim paceklik lurah dan para pegawai desa berkeliling membawa beras untuk memastikan tidak ada warga yang tak bisa makan. Beras itu adalah simpanan lumbung desa dari panen di sawah bengkok, hanya sebagian kecil digunakan untuk gaji kepala desa dan pegawainya, selebihnyan untuk uang gorol dan tunjangan orang miskin dan janda tua seperti yang dilakukan dengan berkeliling desa itu.
Simbok tak tahu kapan tepatnya tanah bengkok desa itu menyusut, yang jelas sejak Kades Wiroroji melarikan diri setelah huru-hara, yang juga diikuti dengan menghilangnya suami Mbok Siti, sudah tak mengikuti lagi perkembangan pemerintahan desa, karena sebelumnya Daripin suaminya membantu Wiroroji di desa. Daripin menangani pembukuan desa dan selalu berkeliling desa dengan membawa beras bersama Kades dan para pegawai desa lainya. Bahkan Simbok agak trauma karena setelah menghilanya sang suami ia malah dituding menyebunyikan Daripin, bahkan ia dipaksa mengaku anggota sebuah oraganisasi wanita, karena organisasi itu juga dipimpin Minah isteri Wiroroji.
“Mbok mulai minggu besok mbok tak bisa berjualan di sni lagi,”ujar Partomo hansip desa kepada Mbok Siti yang sedang merajang daun pandan. Mbok Siti baru saja membereskan daganganya, bunga soka dan bunga kenanga yang baru dikulaknya dari pengantar bunga yang datang dari kecamatan tetangga bahkan belum sempat ia rapihkan. Entah sengaja atau tidak sengaja Kartomo menendang cepon sebuah tempat yang terbuat dari bilah bambu yang dianyam. Tampah tempat bunga-bunga yang akan dibereskan yang ditarus di atas cepon itupun terlempar dan bunga bunga srta daun dasarnya berhamburan.
Tanpa mengucapkan apapun Partomo meninggalkan Mbok Siti yang masih terkejut dan belum memahami apa yang terjadi. “Tomo, aku gak ngerti apa maksud mu,”Akhirya Mbok Siti berteriak ke arah punggung Partomo yang telah jauh dan tidak menggubris teriakan Mbok Siti. Belum dapat menangkap apa yang diucapkan Partomo Mbok Siti memungut dan membereskan daganganya, pikirnya toh hari ini, besok dan luas ia masih bisa berdagang, dagangan selama tiga hari bisa mencukupi kebutuhan hidupnya yang hanya tinggal berdua dengan Karsoto. Mabok Siti pandai mengatur uang untuk kebutuhan hidupnya, karena untuk kayu bakar sring ia ngerencek di kebun atau mencari ranting mangrove kering di tepi tambak.
Pikiran Mmbok Siti tak dapat menepiskan dari kejadian di pasar hari itu, karena ia sudah mafum bahwa tak mungkin seorang hansip melakukan perbuatan demikian kalau tidak diperintah atasanya, maka Mbok Siti pun menebak-nebak bahwa kades marah karena kini Karsoto bersama beberap pemuda desa setempat sedang menyusun rencana untuk melaporkan kades ke pihak berwajib, karena diduga telah menggadaikan sawah bengkok yang hanya tingga 13 bau, sebelum pelaksanaan pilkades, bahkan tudingan itu diperkuat dengan adanya bukti-bukti yang menurut Karsoto dan kawan –kawanya merupakan kecurangan dalam pilkades.
(Bersambung)
Last Updated (Sunday, 10 January 2010 09:33)






















