| By kaka suminta,
on 18-10-2009 23:57
|
Views : 365 |
Favoured : 22 |
Published in : News, Latest |
Lincahnya Presiden terpilih Sby menepis dan menjawab berbagai isu dari yang biasa-biasa saja sampai yang panas dan menyerempet bahaya diperlihatkan dengan baik menjelang pelantikanya bersama wakil presiden terpilih Boediono Selasa mendatang. Pembawaanya yang enak dilihat dan cenderung menonjolkan prabawa kalem sebagai mana layaknya priyayi Jawa menjadi perpaduan yang menyihir banyak orang seakan mampu melupakan permasalahan-permasalahan pelik yang sedang dihadapi. Kelincahan dan ketenangan tadi bila diilustrasikan seperti menari samba dengan gamelan Jawa.
Kita juga kadang menangkap sang presiden meliuk, meradang dan menerjang secara spontan meladeni isu politik krusial yang dilontarkan pihak lain, ada nada marah atau resah seperti misalnya saat ia menanggapi pidato Wakil Presiden Yusuf Kalla yang meminta Golkar untuk beroposisi terhadap pemerintah dalam Munas Golkar di Pekanbaru belum lama ini, Sby langsung menaggapi dengan penampilan yang tak dapat disembunyikan memancarkan ketidaksukaan terhadap pernyataan JK tadi. Namun dalam penyampaianya tetap menonjolkan cara yang nampak santun. Bagi publik penampilan demikian nampaknya lebih bisa diterima dibandingkan dengan gaya yang meledak-ledak atau yang membiarkan isu mengambang tanpa ada tanggapan pemerintah.
Kelincahan Tari Samba dalam iringan tenangnya Gamelan jawa juga diperlihatkan hari-hari ini ketika ia memilih para pembantunya yang akan menduduki departemen, kemetrian dan lembaga negara. Isu panas seputar ikut sertanya DPI Perjuangan dalam kabinet mendatang ditanggapi dengan kelincahan dan ketenangan yang memang diciptakan sebagai image yang dibentuk sang presiden. Menanggapi keengganan Megawati untuk memberi ijin kadernya untuk bergabung dalam kabinet Sby ditanggapi dengan mengambangkan isu itu, tetapi terus melakukan kegiatan yang telah dicanangkan berupa uji kelayakan dan kepatutan terhadap para calon pembantunya. Walau di hari kedua yang sedianya merupakan hari terakhir masih disisakan beberapa posisi untuk hari berikutnya.
Kepada publik dikesankan bahwa Sby telah mengantongi nama-nama para calon pembantunya, tetapi strategi untuk mengeluarkan rencana cadangan telah pula dipersiapkan. Seolah-olah dikesankan bahwa jika sampai hari ketiga signal PDIP tetap teidak hijua untuk bergabung dalam pemerintahanya, maka bukan salah Sby jika kemudian ditinggalkan gerbong meminjam istilah juru bicara presiden Andi Malarengen saat menanggapi keikusertaan PDIP dalam kabinet Sby. Artinya jika sampai hari senin tidak ada kejelasan dari PDIP, maka seluruh posisi yang harus diisi itu telah dipersiapkan orang-orang untuk mengisinya, sehingga bukan salah Sby jika tidak mengikutsertakan PDIP, bukankah keberadaan Taufik Kiemas sebagai ketua MPR tak lepas dari dukungan partai binaan Sby, yakni Partai Demokrat di parlemen.
Nampaknya pertunjukan Tari Samba dalam iringan Gamelan Jawa cukup memukau publik, buktinya hampir sebagian besar masyarakat mengikuti perkembangan apa yang sering diplesetkan sebagai audisi Kabinet Indoensia Bersatu jilid dua yang dilakukan di rumah kediaman Sby di Cikeas. Kita bisa memandang bahwa apa yang dipertontonkan bisa menjadi modalitas awal untuk membangun dan membentuk Indonesia ke depan sebagai negara yang semakin maju dan dapat berbicara di forum dunia dengan kepemimpinan Presiden Sby yang mendapat legitimasi kuat melalu pemilihan presiden secara langsung, serta hadirnya parlemen yang kuat mendukung kepemimpinan presiden terpilih.
Namun kita juga bisa melihatnya dengan nada khawatir karena adanya adigium politik yang menyebutkan bahwa kekuasaan cenderung korup atau diselewengkan, dan kekuasaan yang mutlak akan mutlak pula penyelewenganya. Sehingga kehadiran Sby dengan gaya kepemimpinan yang populis dan dukungan politik yang sangat kuat akan cenderung melahirkan penyalahgunaan dan penyelewengan akibat absenya kekuatan pengimbang yang beroposisi secara efektif kepada kebijakan-kebijakan pemerintahnya.
Sikap yang paling rasional dalam menghadapi dilema tadi adalah mengharapkan dan mengusahakan yang terbaik dengan tetap mempersiapkan diri apabila terjadi hal yang terburuk. Sebuah sikap yang sebenarnya meminta energi publik yang cukup besar, karena seyogyanya jika sistem sudah berjalan dengan baik, termasuk sistem politik dan ketatanegaraan, maka publik perlu mempercayai sitem yang berjalan, sementara selutuh komponen bangsa bekerja keras dan lebih fokus pada bidang kerjanya untuk menghasilkan karya masing-masing yang terbaik. Dengan kondisi ini maka sebagian besar energi bangsa akan menjadi agregasi yang sinergis untuk mencapai cita-ciota kolektif bangsa sebagaimana yang diamanatkan dalam cita-cita kemerdekaan bangsa.
Sayangnya hal ideal tadi belum tentu dapat terpenuhi dalam pemerintahan Sby periode kedua, karena adanya ketidakpercayaan publik secara utuh terhadap agenda pemerintah, apalagi jika didukung oleh kekuatan politik di parlemen dan berbagai kalangan masyarakat, karena kita belum bisa keluar dari trauma penindasan dalam pemerintahan Orba beberapa dasa warsa lalu. Kekhawatiran publik muncul dalam berbagai diskusi dan pernyataan terkait potensi lahirnya kembali pemerintahan otoritrian yang menjelma dan terbentuk melalui pemilu yang dianggap sebagai prose demokratis suksesi kepemimpinan bangsa. Sejara Jerman di bawah Hitler dan sejarah Pilipina dibawah Marcos memberikan pelajaran berharga, karena kedua pemerintahan otoriter tadi juga naik melalui proses pemilu.
Masa depan demokrasi di Indonesia yang belum lama bersemai akan menghadapi masa yang sangat menentukan dalam pemerintahan kepemimpina Sby periode kedua. Apakah persemaian demokrasi akan menghasilkan buah-buah demokrasi berupa Negara Indonesia modern yang semakin memberikan ruang bagi aktualisasi potensi dan aspirasi rakyatnya, atau sebaliknya akan menuju pada kembali tertutupnya pemenuhan hak-hak sipil dan politik warga negara, karena hadirnya penguasa yang bersifat otoritarian. Pilihan politik para elite menjadi sangat menentukan apakah akan melakukan koreksi dari dalam malalui kerjasamna dengan Sby atau melakukan kritisi melalui pilihan oposisi. Pengalaman terbentuknya pemeruntahan Orba menyatakan bahwa pilihan pertama sangta riskan bagi bangsa Indonesai yang mudah deigiring padakonsensus walau itu akan melukai rakyat.
Kepemimpinan Sby tentu menjadi penentu utama apakah akan menggunakan akumulasi kekuasaan yang dimilikinya untuk mengakhiri masa jabatanya dengan kado manis berupa terbentuknya fondasi demokrasi dalam kehiduoan berbangsa. Tentu saja seharusnya ini yang menjadi pilihan rasional Sby. Tetapi kita memahami bahwa politik memiliki logikanya sendiri, di mana penguasa serinbg tergoda untuk mempertahankan kekuasaanya dengan mengakumulasikan sebagian besar kekuatan politik bangsa dan menggunakanya un tuk memberangus hak-hak asasai warga, karena kepentingan pribadi dan kelompoknya yang menghendaki demikian. Potensi ini tetap terbuka mengingat bahwa demokrasi Indonesia memeng masih sangat rapuh.
Tari Samba politik dengan alunan budaya kental gamelan Jawa yang dibawakan kepemimpinan dan komunikasi politik Sby masih akan memukau publik Indonesia, sehingga kita harus terus memantau sejauh mana mandat politik dan kharisma yang dipegang Sby akan digunakan. Ke arah penguatan demokrasi sebagaimana yang sering dilontarkan oleh Sby atau secara diam-diam akan mengarah kepada otoritarian sebagaimana fenomena berbagai penyelesaian politik Sby yang bergerak pada operasi senyap dan elegan sejak awal kemunculanya melakukan perlawanan terhada Megawati mantan pimpinanya. Juga aksi diamnya saat KPK diobrak-abrik polisi, setelah sebelumnya memberikan signal bahwa KPK disebutnya super body olah sang prasiden sebelum pemilu lalu. Last update: 19-10-2009 00:19
|