Selamat Datang di Bengkel Pena
Menyoal Kawartawanan Infotainment
Oleh : Kaka Suminta
Pertikaian dua kubu soal apakah infotainment masuk kedalam domain jurnalisme atau bukan bagai api dalam sekam yang lama membara. Api ini membucah ketika dalam rapat dengar pendapat KPI, Dewan Pers dan DPR tersimpulkan bahwa proses kerja dan tayangan infotainment bukan merupakan tayangan faktual, belum jelas bagi publik apa yang dimaksud dengan istilah faktual, tetapi secara umum dipahami bahwa infotainment bukan merupakan karya jurnalistik, dan memerlukan sensor sebelum ditayangkan.
Sudah lama sebenarnya perdebatan ini terjadi, kubu yang berpendapat bahwa infotainment termasuk domain jurnalistik menyatakan bahwa lebih baik jika infotainment sebagai karya jurnalis akan dapta dengan mudah mengontrol proses kerja dan hasil karyanya, karena harus memenuhi syarat-syarat jurnalisme, termasuk kepatuhan kepada undang-undang dan kode etik jurnalis, sebagaimana yang tercantum dalam Undang-undang nomor 40 tahun 1999 tentang Pers. Semenetara itu kubu yang menentang masuknya infotainment sebagai proses dan karya jurnalis berargumen bahwa secara jelas infotainment tak dapat memenuhi kaidah-kaidah jurnalis, salah satunya terkait unsur kepentingan publik yang tidak ada dalam konten infotainmen.
Cara Basi Basa-Basi DPR
Dalam pemilihan calon Gubernur Bank Indonesia saat ini, pem,erintah nampak sangat percaya diri, hal ini tercermin dari pengajuan mantan Dirjen Pajak Darmin Nasution yang sekarang menjadi pejabat sementara BI, sebagai calon tunggal yang diajukan kepada DPR. Kepercayaan diri pemerintah dalam hal ini tentunya tidak dapat dilepaskan dari kayakinan politik presiden sendiri bahwa sang calon akan mulus diterima oleh parlemen. Sebuah kepercayaan diri yang tidak pada tempatnya dipertontonkan pemerintah sebagai simbol kuatnya dukungan parlemen kepada pemerintah.
Setidaknya ada tiga hal negatif yang melatarbelakangi pencalonan Darmin sebagai calon Gubernur BI ini, pertama bahwa kita semua ingat, selain Wapres Boediyono dan mantan Menkeu Sri Mulyani, dalam rekomandasi DPR dan kesimpulan pemeriksaan BPK atas kasus bail out Bank Century juga tercantum nama Darmin Nasution terlibat dalam mega skandal tadi. Kedua kita juga masih ingat bahwa dalam pemilihan Gubernur BI pernah muncul skandal treveler chek dalam pemilihan calon Gubernur BI. Muranda Gultom saat itu. Ketiga kita juga tidak bisa melupakan bahwa sebagai mantan orang nomor satu di Dirjen Pajak, setidaknya kasus Gayus mengganggu pikiran kita tentang sejauhmana para petinggi di Dirjen Pajak ikut bertanggungjawab.
RIP Kasus Century
Jika kita berdiri di sisi yang berbeda maka kemungkinan besar kita memiliki sudut pandang yang berbeda pula terhadap sebuah permasalahan. Publik selama ini memandang kasus mega skandal bail out Bank Century yang sempat mebikin panas suhu politik negeri ini menilai bahwa proses bail out bank yang sekarat menjelang pemilu 2009 lalu adalah sebuah kejahatan. Saat itu tahun 2008 akan segera ditutup, maka terjadilah mega skandal yang kemudian dituding sengaja dilakukan untuk persiapan logistik pemilu legislatif dan pemilu presiden.
Kita berandai-andai berada pada posisi sebaliknya, yakni posisi dimana para petinggi negeri ini berada, mulai dari pengurus Partai yang memerintah sampai ke pucuk pimpinan negeri ini. Sudut pandang atas permasalahan ini tentu saja sangat berbeda. Meredupnya isu ini tentu dipandang sebagai sebuah keberhasilan manuver politik yang sangat luar biasa. Sebuah keberhasilan yang patut diacungi jempol, bahkan bila perlu dirayakan dengan bersulang anggur dan pesta kemenangan, karena hal demikian wajar dalam menyambut sebuah kemenangan yang gilang gemilang.
Last Updated (Thursday, 22 July 2010 10:53)
Ketika Berita Fakta Bercampur Fiksi
Ini merupakan tudingan tentang pemberitaan yang kemungkinan dicampur dengan fantasi:
Ryszard Kapuscinski was considered to be one of the most fearless journalists of his time. As the only foreign correspondent for PAP, the Polish news agency, in the 1960s and '70s, he covered some 27 coups and revolutions around the world, survived firing squads in Africa and befriended the likes of Che Guevara. Much of his reporting formed the basis for widely acclaimed books such as The Emperor, about the life of the eccentric Ethiopian leader Haile Selassie, Shah of Shahs, about the fall of the Iranian ruler Reza Pahlavi and Imperium, on the last days of the Soviet Union. Salman Rushdie once said of Kapuscinski: "He is worth a thousand whimpering and fantasizing scribblers."
Last Updated (Monday, 26 April 2010 00:13)
Penjara Mewah “For Rent”
Ini bukan iklan properti, tetapi mungkin sebaiknya ini ditempelkan di kantor-kantor lembaga penegak hukum dan peradilan. Ini perlu dilakukan agar adil bagi setiap orang yang berperkara atau berpotensi untuk masuk bui bisa tahu dan mendapat fasilitas yang sama dengan Ayin atau Artalita Suryani, terpenjara kasus suap yang disel di Rutan Pondokbambu, tetapi dalam sidak Satgas Pemberantasan Mafia Hukum nampak seperti kamar apartemen mewah, lengkap dengan pembantunya.
Last Updated (Monday, 11 January 2010 07:32)
Skandal Kades Jatiborok (Sekadar Cerita)
Rumor itu telah bergulir cukup lama di desa Jatiborok, sebuah desa yang terletak di tepi pantai laut Jawa. Padahal kades Renggo Wudel ini belum lama terpilih kembali menjadi kepala desa dalam pemilihan kepala desa. Banyak harapan yang digantungkan pada sosoknya yang sangat santun dan murah senyum, tetapi dalam pilkades lalu banyak warga terutama yang tidak mendukung kades menyatakan bahwa proses pemilihanya bermasalah, karena kades dituding menggadaikan tanah bengkok sebelum waktunya dan uangnya digunakan untuk kampanye dalam pilkades.
Last Updated (Sunday, 10 January 2010 09:33)














Tingkah Ruhut Sitompul mendapat respon publik, demikian juga apa yang terjadi saat Ramadhan Pohan berdiskusi dengan George Aditjondro, atau perilaku aneh kader-kader pendukung pemerintah, termasuk usulan Soeharto menjadi pahlawan, tidak lebih sekadar upaya untuk mengalihkan perhatian publik dari masalah utama bangsa ini untuk terbebas dari rejim penyalahguna kekuasaan—secara masiv dapat kita lihat dalam kasus Bank Century.



















